blog fitri prastika dewi

blog fitri prastika dewi

Kamis, 28 Oktober 2010

MITOS vs ALAM PIKIRAN MANUSIA

MITOS vs ALAM PIKIRAN MANUSIA


MITOS PERKEMBANGAN MANUSIA BERDASARKAN BUDAYA DAERAH

Setiap yang mendengar kata Yogyakarta, bayangan mengenai berbagai sifat luhur tersebut secara tidak sadar juga melintas. Terlebih pada wisatawan, mereka datang selain untuk menikmati keindahan materi di Yogyakarta, juga dengan sebuah “pengharapan” agar bisa merasakan apa yang selalu dituliskan dalam buku panduan wisata mengenai kelebihan manusia Jogja dalam komunikasi ke-Jogja-annya tersebut.
Uniknya, hal seperti ini pun terjadi dalam pikiran-pikiran para manusia Jogja sendiri. “Terjadi” di sini bukan dalam pembicaraan bahwa sifat tersebut dilakukan manusia Jogja, namun dalam konteks ternyata masyarakat Jogja sendiri pun menganggap sifat tersebut adalah karakter manusia Jogja. Masyarakat Jogja tak ubahnya seperti wisatawan yang merupakan “orang luar” yang menilai sekilas mengenai sifat manusia Jogja dari sedikit informasi dari buku panduan wisata dan para guide-nya.
Pelabelan mengenai sifat dan nilai mengenai manusia Jogja seakan-akan berevolusi menjadi sebuah mitos, atau apapun namanya, yang merebak merasuki pikiran masyarakat baik “orang luar” maupun masyarakat Jogjanya sendiri. Malinowski mengutarakan bahwa mitos adalah semacam cerita yang dengannya akan menimbulkan sebuah fungsi sosial. Sebuah mitos pada dasarnya mempunyai kekuatan justifikasi pranata di masa kini. Menjadi relevan kiranya jika kita menyebut bahwa peng-identik-an sifat tersebut sebagai karakter manusia Jogja sudah mencapai  pada tingkatan sebuah mitos dengan adanya respon dari global maupun lokalnya sendiri.
Kasus serupa juga terjadi seperti pada analisis sosial yang dilakukan Mochtar Lubis mengenai karakter manusia Indonesia yang banyak menuai perbincangan dan polemik. Mochtar Lubis mengatakan bahwa karakteristik manusia Indonesia mempunyai tiga jenis refleksinya. Yang pertama adalah sifat malas yang merupakan stigma pada manusia Indonesia. Yang kedua adalah sifatnya yang pasif sehingga membawa dampak pada kurang bisa responsif terhadap perkembangan. Dan yang ketiga, terakhir, adalah naif.


Sifat-sifat manusia Jogja seperti ramah, tepa selira, lugu, dan lainnya -yang sebenarnya merupakan sifat ideal secara universal namun menjadi kelebihan karena nuansa lokalnya- yang dilabelkan kepada masyarakat Yogyakarta tersebut bukan tanpa alasan. Anggapan “orang-orang luar” seperti ini muncul oleh pengalaman dan pengendapan pengamatan yang memakan waktu cukup lama. Hal ini menyangkut hakikat pelabelan sesuatu, bahwasanya sebuah ciri atau karakter akan diberikan kepada sesuatu tersebut apabila berbagai “pengujian” ulang kepadanya memperoleh hasil yang sama. Seperti misalnya pengamatan terhadap tumbuhan yang setelah melewati berbagai berbagai percobaan pada akhirnya diketahui akan mempunyai kecenderungan tumbuh menuju arah cahaya, atau mengenai lumba-lumba yang dikenal sebagai ikan pintar, atau hal-hal lainnya.

Adapun berbagai macam mitos tentang suku budaya bugis yang dibungkus dalam “Pamali” :
1.Di larang tidur dengan tangan menyilang di wajah (kening) katanya nanti sial
2.Di larang duduk berselonjor dengan ujung kaki saling silang, juga menghindari sial
3.Di larang menyapu kotoran ke luar rumah jika sudah malam, nanti rezeki kita ikut terbuang
4.Menyimpan sapu tepat dibelakang pintu dengan posisi terbalik, belum tahu apa maksudnya
5.Tidak menjual peniti, silet atau benda besi yang tajam lainnya di malam hari, belum tahu apa maksudnya



FAKTA ASAL PERKEMBANGAN BERDASARKAN BIOLOGI PERTEMUAN ANTARA SPERMA DAN OVUM
Sperma terbentuk di dalam testis yang kemudian disempurnakan keadaannya sebagaimana disebutkan di dalam embriologi dan turun ke bawah untuk bertemu dengan ovum. Kemudian ia ke punggung dan turun ke perut bagian bawah pada minggu-minggu terakhir fase kehamilan. Air mani laki-laki dapat digambarkan sebagai berikut:
Air mani laki-laki yang berbentuk seperti kepala yang berbuntut yang selalu bergerak sampai terjadinya pembuahan, dan prostaglandin yang kemudian menempel di dinding rahim sehingga memudahkan dalam memindahkan sperma untuk bisa memasuki tempat pembuahan. Padahal, ada jutaan (500 – 600 juta) sperma yang terus memburu ovum, akan tetapi hanya satu sperma yang bisa memasuki dan membuahi ovum tersebut. Tentu saja, ini adalah hal yang sangat panjang dan lebar sekali bagi sperma untuk bisa mencapai tempat pembuahan di “uretrine tube” yang akan mengantarkan hal pembuahan ke rahim. Hal ini yang penuh dengan rintangan mungkin sama dengan perjuangan manusia untuk bisa mendarat di bulan.
Sesungguhnya spermatozoa terdiri atas 23 kromosom. Diantara kromosom tersebut ada satu kromosom yang membawa sifat genetik, terkadang (Y) atau (X). Adapun ovum maka kromosom jenis kelamin selalu (X). Kalau kromosom sperma jenis (Y) yang membuahi ovum, maka akan jadi laki-laki (XY). Akan tetapi jika kromosom sperma (X) yang membuahi ovum, maka akan jadi perempuan (XX). Maka yang mempengaruhi terjadinya gen/jenis kelamin (laki-laki atau perempuan) adalah sperma, dan bukan ovum !!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar